Tuesday, December 25, 2018

Ekonomi Politik Global: Aspek Domestik



Aspek Domestik dalam Ekonomi Politik Global




Aspek domestik dapat dilihat dari 2 sisi, yaitu:
(1)   Ekonomi
(2)   Politik

      Dalam sisi ekonomi, dilihat pada pemetaan kebijakan yang berhubungan degan kelompok kepentingan yang di dalamnya membahas mengenai:
(a)    Perdagangan
(b)   Migrasi
(c)    Investasi
(d)   Nilai tukar

(a)    Perdagangan
Dalam sisi perdagangan, barang yang akan diimpor maupun diekspor tidak selamanya sesuai dengan kebutuhan negara, namun bergantung pada pihak yang melakukan lobbying.

(b)   Migrasi
Perpindahan penduduk dapat mempengaruhi ekonomi negara

Contoh: pekerja buruh Tiongkok di Indonesia
Pihak yang insecure: pekerja buruh

Dalam melihat suatu bidang, dilihat dari 2 level analisis, yaitu:
-          Domestik
-          Internasional

Dalam fenomena pekerja buruh Tiongkok di Indonesia, dari sisi:
-          Domestik: sisi negara yang menginginkan pembangunan
-          Internasional: menjalankan perjanjian dengan Tiongkok

(c)    Investasi
Penanaman modal yang dilakukan pihak asing, dalam bentuk FDI (Foreign Direct Investment). Dalam hal ini, pihak yang insecure adalah para pemilik modal kecil dan pihak yang secure adalah pengusaha dan wirausaha.

(d)   Nilai Tukar
Menenntukan perbandingan harga suatu nilai uang. Pada pembahasan ini, pihak yang insecure adalah pihak yang terlibat dalam ekspor–impor sedangkan pihak yang secure adalah pekerja yang mendapatkan penghasilan dengan dolar.

      Pada sisi politik, institusi politik mempengaruhi perekonomian yang bergantung pada:
(a)    Pemilu
(b)   Legislasi
(c)    Birokrasi

(a)    Pemilu
Hasil dari pemilihan umum mempengaruhsi siapa yang memegang kekuasaan yang mana akan mempengaruhi kebijakan perekonomian.

(b)   Legislasi
Aturan yang dihasilkan pemegang kekuasaan dan menghasilkan perbedaan cara kerja ekonomi suatu negara.

(c)    Birokrasi
Arah perpolitikan dalam suatu birokrasi mempengaruhi hasil dari regulasi.
Contoh: Masa pemerintah Jokowi yang mengutamakan pembangunan toll untuk distribusi ekonomi.

Ekonomi Politik Global: Koordinasi dan Kolaborasi



Koordinasi dan Kolaborasi dalam Ekonomi Politik Global



Mengapa Negara Bekerja Sama?
      Dalam kepemilikan negara, terdapat private good yang dimiliki oleh pihak swasta yang bertujuan untuk mendapat keuntungan dan public good yang digunakan untuk kepentingan umum dan perlu disediakan negara. Untuk memenuhi penyediaan public good dan mengambil keputusan, negara perlu bekerja sama.
Contoh: Ozon diperlukan oleh secara bersama oleh seluruh dunia sehingga diperlukan kerja sama untuk melindunginya.

Bagaimana Aktor Membuat Keputusan?
Cara menjelaskan bagaimana interaksi antar aktor.
1)      Individual Decision Making
Adalah bagaimana individu mempertimbangkan keputusan sesuai keadaan.
(a)    Decision Under Certainty
Adalah keputusan yang diambil negara apabila dalam situasi terkendali.
(b)   Decision Under Risk
Adalah keputusan yang diambil negara di bawah keadaan yang berisiko atau keadaan genting. Kemungkinan adalah kemenangan mutlak atau kekalahan mutlak.
(c)    Decision Under Uncertainty
Adalah keputusan yang diambil pada keadaan tak terdua, sehingga diperlukan interdependence decision making.

2)      Interdependence Decision Making Game Theory
Game theory adalah bagian dari ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan pembuatan keputusan pada saat dua pihak atau lebih berada pada posisi konflik.
(a)     Prisoner Dilemma
      Dilemma yang digambarkan dari sebuah permainan yang dianalisis dalam teori permainan yang memperlihatkan kenapa dua individu mungkin tidak akan bekerja sama. Dalam ekonomi, walaupun negara dapat bekerja sama, namun terdapat kemungkinan suatu negara akan mengkhianati yang lain (sebagai free-rider). Kerja sama sulit dilakukan karena individual lebih banyak menginginkan untung tapi takut rugi.
      Pada kasusnya, seharusnya aktor bisa bekerja sama  untuk mendapatkan hasil yang diinginkan tapi terkadang potensi keuntungan free rider membuat mereka tidak melakukannya. Dalam EPG, prisoner dilemma dapat dilihat dalam permasalahan perdagangan. Kesulitan untuk memonitor kebijakan perdagangan domestic terkadang membuat negara memutuskan untuk keluar dari komitmen perjanjian yang telah dibuat.

Contoh: perang dagang antara AS dan Tiongkok.
-          Apabila saling bekerja sama, maka akan terjadi pembagian keuntungan.
-          Apabila saling tidak bekerja sama, satu pihak akan mendapatkan keuntungan penuh sementara pihak lain akan merugi. Kondisi ini terjadi apabila salah satu pihak merasa dapat menyaingi pihak lainnya.
Jalan terbaiknya adalah dengan mengutamakan kestabilan dunia melalui institusi.

(b)  Coordination Game
      Adalah situasi dimana pihak-pihak yang terlibat di dalam konflik harus memilih di antara pareto efficient outcomes, yaitu outcomes yang dimana aktor tidak bisa menjadi lebih baik jika tidak membuat pihak lain jadi buruk. Terdapat pihak yang rugi untuk mencapai suatu keuntungan, dimana suatu pihak harus tetap pada keputusannya, sehingga pihak lain mengalah. Harus ada yang mengalah, biasanya yang tidak memiliki daya jual. Pihak yang bertahan adalah pihak yang memiliki power lebih kuat dari pihak satunya.
            Dalam EPG, usaha yang dilakukan oleh negara maju dalam memilih kebijakan ekonomi makro yang saling menguntungkan adalah gambaran dari coordination games. Jika terjadi permasalahan dalam pasar finansial dan nilai tukar, respon koordinasi oleh negara—negara terkemuka adalah pilihan terbaik, tetapi setiap negara malah akan membuat kebijakan yang sesuai dengan permasalahan domestiknya.

Contoh: Sistem moneter internasional, keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa.

(c)    Assurance Game
      Situasi dimana tidak bisa memanfaatkan peluang untuk bekerja sama meski tiap aktor sama-sama memiliki satu hasil yang diinginkan, tetapi mereka tidak punya strategi dominasi. Ada situasi bekerja sama namun aktor memilih tidak bekerja sama karena adanya insentif lain. Kondisi ini dapat dianalogikan seperti dalam berburu, dimana hal yang diburu tidak didapatkan, sehingga mencari hal lain sebagai ganti hasil berburu. Dalam ekonomi, situasi yang sesungguhnya menguntungkan untuk bekerja sama, namun terdapat hal lain yang menghalangi (seperti insentif).
      Dalam EPG, dapat dilihat dalam pengaturan stabilitas financial terutama bagi para finansial besar yang seharusnya bekerja sama jika menginginkan hasil yang sama-sama diinginkan. Hal yang sama juga terjadi pada stabilitas nilai tukar, terlihat dari collapse-nya Breton Woods dan EMS, ketika negara-negara tidak bekerja sama dengan aktor dominan maka bisa saja collapse. Dengan kata lain, tidak bisa mengharapkan big brother saja dalam perekonomian.

Contoh: Pengaturan stabilitas finansial bagi pusat finansial besar. Terdapat finansial hub (kota yang memiliki institusi pelayanan finansial besar) seperti New York, London, Tokyo (IFC), Boston, Milan, Singapur, Hongkong (RFC). Jika mengharapkan bantuan negara “big brother” saja, maka ekonomi negara tidak berjalan baik.

(d)   Chicken Game
      Game yang menggabungkan 3 dimensi: kerja sama – pilihan aktor, kemampuan aktor, dan komunikasi antar aktor. Chicken game dapat dilihat saat aktor berbagi peran dalam menghadapi masalah. Harus ada yang mengalah, biasanya yang memiliki power lemah. Aktor memiliki dua strategi dominan dan 2 hasil equilibrium. Chicken game menggabungkan masalah dari Coordination Game dan free riding dari prisoner dilemma.
      Dilemma yang dianalogikan saat dua supir yang ingin mengesankan penumpangnya dan akan bertabrakan, apabila kedua pihak tetap pada posisinya maka keduanya akan rugi, sedangkan apabila satu pihak mundur tapi pihak lainnya tidak, maka akan merugikan pihak yang mundur. Cara terbaik adalah kedua belah pihak saling menghindari pertentangan dan bergerak pada jalan yang berbeda.
      Dalam EPG, (a) burden sharing antar aktor dominan; (b) masalah stabilitas finansial dan moneter internasional, Amerika Serikat dan Uni Eropa hanya akan komit jika pihak lain juga akan melakukan hal yang sama; (c) meninggalkan kerja sama internasional saat aktor tidak setuju dengan kerja sama asimetris.

(e)    Called Bluff
      Game asimetris, dimana satu aktor memiliki pilihan prisoner dilemma dan aktor lainnya dengan pilihan chicken game. Game ini adalah keadaan dimana apabila pihak kecil memiliki peluang menang lebih besar dari pihak dominan. Outcome yang mungkin adalah, player beta mendapatkan outcome yang diinginkan, sementara player alpha mendapatkan pilihan buruk kedua. Player dengan sumber lemah atau kurang bergantung pada barang (beta) bisa menjadi free rider bagi alpha.

Contoh: Trade war antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Tiongkok yang harga barangnya di bawah Amerika Serikat menyebabkan Amerika Serikat menginginkan Tiongkok menaikkan harganya agar dapat bersaing sama dengan Amerika Serikat, namun Tiongkok tetap pada posisinya.

(f)    Suasion
      Keadaan dimana aktor memiliki pilihan untuk bekerja sama dan akan untung apabila bekerja sama sedangkan aktor lainnya memiliki pilihan chicken game.

Contoh: Amerika Serikat mampu meyakinkan negara lain jika Tiongkok tak mau mengalah maka negara lain harus menerima dampaknya.

(g)   Self Help atau Institution

Self Help
      Adalah saat dimana suatu pihak lebih baik untuk melindungi dirinya sendiri dan dapat dilakukan apabila pihak tersebut memiliki keadaan yang stabil dan modal untuk mempertahankan diri.

Contoh: Hal yang dilakukan Tiongkok dalam Trade War
Karena Tiongkok memiliki pasar domestic serta faktor produksi yang kuat sehingga tidak terpengaruh dengan ancaman dan tindakan ekonomi Amerika Serikat.

      Untuk melindungi diri sendiri maka diperlukan adanya institusi.

Institusi
      Adalah wadah bagi setiap pihak untuk mendapatkan keuntungan bagi negaranya dan merupakan cara negara-negara kecil utnuk melindungi diri dari dampak trade war. Terdapat 5 pandangan mengenai institusi:
1)      Neo-realisme
Menganggap bahwa institusi bukanlah cara melindungi negara ataupun mempunyai dampak baik dalam meningkatkan power negara dan institusi hanya digunakan untuk memperkuat power negara (murni mencari keuntungan).
2)      Neo-realisme Institusional
Mempercayai rezim dapat mempengaruhi untung–rugi  dan ikut dalam institusi adalah untuk mendapat keuntungan atas dorongan adanya rezim.
3)      Neo-liberal Institusional
Institusi ada karena perlunya koordinasi dan kolaborasi yang pasti membawa pada keuntungan.
4)      Cognitivisme
Institusi ada karena para ahli yang mempromosikan dan menyebarkan pemahaman bahwa institusi memiliki dampak baik.
5)      Konstruktivisme Radikal
Institusi adalah hasil bentukan dari kebijakan sehingga institusi dianggap sebagai hasil dari konstruksi sosial.

Ekonomi Politik Global: Perspektif Alternatif



Perspektif Alternatif dalam Ekonomi Politik Global


1)      Konstruktivis
(a)    Berfokus pada ide, gagasan, nilai dan pertentangan antar kubu/orang terhadap masalah yang dibahas. Baik dari hasil HI/EPG.
(b)   Konstruktivis mengkritik asumsi realis bahwa power dan interaksi atau kapabilitas militer dapat menjelaskan kenapa negara berinteraksi. Namun konstruktivisme menyatakan bahwa interaksi antar negara tak hanya dalam memaksimalkan power, namun  karena ada nilai yang membentuknya.
(c)    Institusi seperti negara, pasar, organisasi internasional mengkonstruksi konteks sosial  dengan memberikan arti dan nilai atas tindakan mereka.
(d)   Konstruktivis didasarkan pada nilai sosial > sosiologi dan antropologi.
(e)    Dalam menjalankan interaksi, setiap negara akan melakukan share values yang didasarkan  pada identitas dan tujuan.
(f)    Konflik dan kerja sama dilatarbelakangi oleh aktor yang memiliki kepentingan yang berbeda, kepercayaan, dan nilai-nilai.
(g)   Konstruktivis juga menganggap negara bukanlah  satu-satunya aktor dalam HI, namun ada aktor sosial yang lain yang memberi norma-norma dan perilaku kebiasaan.

Tools and Concept of Analysis on IPE 

Beliefs: Conflict Corporation > Product of view

2)      Feminisme
      Menghargai gender atau menginginkan kesamaan gender. Dalam IPE, Feminis melihat kurangnya kontribusi wanita dalam ekonomi. Feminisme mencoba menerapkan bahwa wanita itu penting, karena laki-laki membutuhkan wanita sebagai sandaran. Struktural realisme > melihat feminisme wanita yang banyak bekerja di perusahaan-perusahaan. Struktural realisme juga melihat adanya sistem yang mengesampingkan wanita. Feminim literal > melihat kesetaraan laki-laki dan perempuan (ada mekanisme yang mendukung laki-laki  dan perempuan tersaing secara sehat). 3 teori utama terlalu maternal, tidak gender. SR > agar wanita tidak dieksploitasi.

Ekonomi Politik Global: Marxisme



Marxisme dalam Ekonomi Politik Global



      Marxisme merupakan pandangan yang menitikberatkan pada perbedaan kelas (capital dan labor), dimana berkaca pada bidang ekonomi dan politik yang merupakan bentuk dari pertentangan kelas (jika ada pergeseran ekonomi, maka juga merombak pada politik, social, dan lain-lain). Marxisme membahas mengenai kapitalisme (kepemilikan modal) dan menggambarkan tentang perjuangan kaum buruh dalam ekonomi.

Perbandingan unit analisis
Realisme : Negara
Liberalisme : Negara dan individu
Markisme : Kelas-kelas sosial (borjuis dan proletar)

Markisme menyerang pemikiran kapitalisme > liberal > penumpukan jumlah pekerja dianggap sebagai komditas bagi orang-orang pemilik modal. Bapak  Marxisme: Karl Marx.
Vladimir Lenin : Tokoh revolusioner Rusia, Ia mencoba menerapkan pemikiran  Marx (sosialis komunis) di Rusia, dimana ekonominya dikendalikan negara untuk kepentingan bersama. Alasan kenapa liberalisme tetap eksis:
-          Masih dipraktekkan kaum borjuis (menuhankan kapitalisme)
-          Masih terjadi kolonialisasi. Contoh: Belanda di Indonesia.
Namun marxisme justru booming setelah Karl Marx meninggal dunia.


     NEO-MARXISME

Muncul saat marxisme tak mampu menjawab pertanyaan ekonomi yang seperti apa yang seharunsya diterapkan dan apa solusi yang ditawarkan? Pada paham marxis, keadaan ekonomi dianggap telah dianalisis secara luas. Namun tidak terdapat  solusi yang diberikan akan bagaimana untuk keluar dari sistem kapitalis. Neo-marxisme membahas bagaimana dan apa saja hal yang menyebabkan adanya kelas.
Pada saat ini terjadi revolusi industri > buruh dieksploitasi > marxisme muncul dan memusatkan perhatian > pemikiran marxisme dicoba > gagal (tidak sesuai kenyataan), dimana negara memanfaatkan power untuk memaksa masyarakat. Ekonomi > Fluktuatif. Marxisme tak mampu menjelaskan bagaimana seharusnya ekonomi berjalan. Marxisme memiliki analisa yang lebih umum dari yang lain. Level analisis marxisme > sistem internasional.

Marxisme: Pandai menganalisa namun tak mampu memberi obat, level analisis: kelas
Neo-marxisme: Mencoba mengamati dan mengobati penyakit marxisme, level analisis: sistem

Solusi dari Neo-Marxisme
1)      Dependency Theory : Ketergantungan dengan negara lain. Pemikirnya Andre Gunter Frank. Frank mengklasifikasikan negara menjadi south–north country dan adanya ketergantungan antara keduanya. South country adalah negara-negara di selatan dunia yang mempunyai standar ekonomi menengah ke bawah (negara berkembang) sementara North country adalah negara-negara industrial pemegang ekonomi dunia (negara maju). Frank juga mengemukakan cara yang dapat dilakukan untuk menghindari atau meminimalisir eksploitasi perbedaan kelas dengan cara: south country tidak ikut dalam sistem ekonomi north country dan south country beraliansi dengan sesame negara south untuk membangun perekonomiannya.
2)      World System Theory : Pemikirnya Wallestan, dimana pada teori ini negara dibagi dalam 3 kategori: (a) core: tukang eksploiter, kaya, maju, erat kaitannyaa dengan industri; (b) semi peri-peri: mengengksploitasi dan dieksploitasi; (c) peri-peri: yangg dieksploitasi oleh core dan semi peri-peri.

Immanuel Wallestein (World System Theory)
 

Andre Gramsci : Teori Gramscianism, dimana Hegemoni adalah hal yang mempengaruhi adanya kelas. Hegemoni adalah nilai-nilai suatu kelompok yang diuniversalkan. Kelompok hegemoni memaksakan nilai pada kelompok kecil melalui dua cara: (a) Hard, berupa peprerangan dan imperialis; dan (b) Soft, melalui civil society, media, dan institusi. Menurut Gramsci, cara untuk menyeimbangkan hegemoni adalah dengan counter hegemoni, yaitu melawan nilai universal yang ada  secara koersif (dengan pemaksaan, seperti revolusi) dan cara soft dengan mempengaruhi civil society.

Robet Cox: menganggap teori marxisme tidak aplikatif, karena manusia butuh colt and benefits. Cox melihat hegemoni pada sistem internasional dengan mengadopsi pemikiran Gramsci. Terdapat 2 jenis kelas berdasarkan hegemoninya, yaitu negara yang memerintah dan negara yang diperintah.

Ekonomi Politik Global: Realisme dan Merkantilisme



Realisme dalam Ekonomi Politik Global


Apa Itu Realisme dan Merkantilisme?
-          Realisme adalah usaha mendapatkan kekuatan melalu kekuatan militer atau ekonomi.
-          Merkantilisme adalah turunan realisme dalam ilmu ekonomi.

Merkantilisme muncul karena para penganut perspektif realisme percaya bahwa “negara harus bisa meraih kekuataan melalui berbagai aspek termasuk ekonomi serta melindunginya. Merkantilisme berasal dari zaman kolonial dan pemikirnya adalah Jean Baptis Colbert. Merkantilisme menggunakan konsep Zero Sum:
-          Berhasil meraih kekuatan/keuntungan : win (plus)
-          Gagal meraih kekuatan/keuntungan : lose
Dalam konsep ini tidak terdapat kerja sama, melainkan “untung dan rugi”. Konsep ini digagas oleh David Hume sebelum munculnya konsep “Absolute Advantage”.
Dalam konsep merkantilisme, dikenal  istilah “mother country” (negara induk/negara penjajag) dan “colony” (koloni/negara yang dijajah). Berdasarkan konsepnya, mother country melakukan kolonialisasi terhadap negara lain melalui kekuatan dan hegemoni yang dimiliknya, kemudian mengeruk sumber daya yang tersedia serta meningkatkan keuntungan melalui monopoli. Terdapat peraturan bahwa koloni harus berdagang dan memberikan supply sumber daya mentah kepada negara penjajah dan tidak boleh berdagang dengan sesame negara koloni.
Prinsip merkantilisme adalah melindungi kepentingan sendiri dengan melakukan proteksionis, yaitu menaikkan biaya impor dan menurunkan biaya ekspor dan adanya tarif pada balance of trade (pada masa VOC di Indonesia).

Dampak Merkantilisme
-          Terjadinya penjajahan dan terus berkembang sejak awal berkembangnya konsep merkantilisme tahun 1500an
-          Meruginya negara koloni, dan terasa dampaknya hingga sekarang
-          Terjadinya “westernisasi”
-          Terjadinya perubahan besar dalam sejarah dan peraturan politik dunia

Varian Merkantilisme dan Urutan Sistem Ekonomi Dunia
1)      Varian Merkantilisme
Merkantilisme klasik, “National Economy”, Neo-merkantilisme
2)      Skema Perkembangan (urutan) sistem ekonomi dunia


*liberalisme dan national economy diterapkan di negara/kawasan yang berbeda

Perbandingan Berbagai Varian Merkantilisme
1)      Merkantilisme Klasik – Berorientasi pada keuntungan dan peningkatan kekuasaan negara
2)      National Economy – Segala kegiatan ekonomi didasarkan rasa cinta pada negara (nasionalisme)
3)      Neo-Merkantilisme – Melakukan intervensi guna mencapai kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi

Kebijakan Terkait Neo-Merkantilisme
1)      Alexander Hamilton – menggagas neo-merkantilisme, membuat bait sentral
2)      Fredrich List – kedepankan peningkatan ekonomi dalam Agrikultur
3)      Menekankan peran negara dalam perekonomian bukan ebagai agen demi mencapai perdamaian, namun dengan tujuan mencapai kepentingan sendiri
4)      Negara berkembang dan neo merkantilisme
(a)    Memfasilitasi dan memimpin pembangunan negara. Apabila terdapat kendala, pemerintah cenderung melakukan tindakan represif
(b)   Pemerintah cenderung otoriter
(c)    Memiliki BUMN untuk meningkatkan keuntungan negara (state kapitalism)
5)      Cara negara mengintervensi Pasar menurut Neo-merkantilisme
(a)    Mengontrol  pasar (adanya regulasi)
(b)   Mengurangi pengangguran dengan membuka usaha rakyat
(c)    Adanya regulasi industry dengan melakukan pengumpulan pajak
(d)   Mengutamakan pembangunan perusahaan nasional (BUMN)
(e)    Negara mensubsidi pensiunan
(f)    Merendahkan pajak ekspor dan meninggikan biaya impor

Akibat Perkembangan Neo-Merkantilisme
1)      Development Store : Berkembangnya negara-negara berkembang ke arah ekonomi industri, umumnya pemerintah bersifat otoriter. Contoh: Taiwan, Tiongkok, Korea.
2)      State Capitalism : Mengutamakan produksi dalam negeri secara besar-besaran dengan mendorong produksi perusahaan nasional negara. Contoh: Tiongkok

Kritik Neo-Merkantilisme Terhadap Pandangan Liberal
  Menurut neo-merkantilisme, pasar perlu diintervansi, karena walaupun dapat berjalan dengan sendirinya tetap terdapat berbagai kemungkinan dan berbagai dampak negatif yang harus diminimalisir. Pemikiran pasar bebas liberalism juga dinilai merupakan padangan merkantilisme karena merupakan kerja sama untuk meningkatkan power. Selain itu, pandangan liberal terlalu bersifat utopis karena pasar tidak “sejujur” yang diasumsikan liberal.