Apa Itu Ekonomi Politik Global?
International Political Economy atau
Ekonomi Politik Global (EPG) adalah sebuah bidang studi dalam Hubungan
Internasional (HI) yang mempelajari tentang bagaimana ekonomi dan politik
mempengaruhi satu sama lain dan peranannya dalam menjelaskan fenomena-fenomena
internasional, seperti terjadinya krisis moneter dunia, dan pengaruhnya dalam sistem
internasional serta pengaruhnya dalam pembentukan kebijakan oleh pemerintah.
EPG juga mengkaji pengaruh politik dengan pasar (state vs market) dan membahas
untung–rugi ekonomi yang berkaitan dengan kebijakan politik negara.
EPG sangat penting dipelajari dalam HI
untuk membantu para pelajar HI memahami kompleksitas hubungan antara ekonomi
dan politik dalam sistem internasional, mengkaji isu-isu terkait ekonomi
politik sehingga dapat menjelaskan isu tersebut dengan logika dan dapat mencari
solusi untuk isu tersebut. EPG juga memungkinkan pelajar HI untuk membuat
‘pola’ perkembangan ekonomi politik sehingga dapat memprediksi atau
mengantisipasi kejadian-kejadian di masa depan yang kemudian memungkinkan
pelajar HI untuk membuat saran-saran solusi apabila prediksi tersebut terjadi.
Kenapa Ekonomi dan Politik Dipelajari Sebagai Kesatuan?
Baik politik maupun ekonomi saling
menopang satu sama lain. Jika ekonomi negara lemah, akan terjadi
ketidakstabilan politik, begitu juga sebaliknya. Jika politik suatu negara
tidak stabil, pertumbuhan ekonomi rendah karena keurangnya investasi yang masuk
terhadap negara tersebut.
Ekonomi
Dunia Pra–1914
Pada masa ini masih banyak penjajahan
terjadi yang dilakukan oleh negara-negara adidaya (umunya berasal dari Eropa)
terhadap negara-negara kecil (yang umumnya sekarang merupakan negara-negara
dunia ketiga). Pada masa ini negara-negara besar sibuk mencari Sumber Daya Alam
(SDA) dari negara-negara kecil dan mengeksploitasinya untuk kemakmuran negara
penjajah. Revolusi industri pada abad ke–19 juga mempengaruhi efisiensi
pengolahan sumber daya yang ada, sehingga turut meningkatkan perekonomian
negara-negara di Eropa pada masa itu.
Dalam masa ini juga muncul sistem standar
emas, dimulai dengan Pemerintah Inggris menetapkan nilai pounsterling dengan
emas. Pada akhirnya emas menjadi tolak ukur jual beli antar negara. Emas pada
kala itu dinilai memiliki nilai tukar yang cenderung tetap dan stabil.
Ekonomi
Dunia Pasca 1914 (PD I–PD II)
Pada masa ini banyak negara yang terlibat
konflik satu sama lain dan konflik tersebut menyebabkan kekacauan ekonomi di
berbagai negara. Negara-negara yang terlibat di dalam perang baik yang menang
atau kalah harus memperbaiki negaranya dan hal tersebut memakan banyak biaya
sehingga banyak negara yang tidak sanggup membenahi negara mereka dan timbulah
depresi ekonomi yang mendunia. Pemulihan kembali negara juga diiringi
pengembangan senjata dan meningkatkan keamanan negara sehingga proses pemulihan
ekonomi berjalan lambat.
Ekonomi
Dunia Pasca PD II
Ekonomi pasca berakhirnya PD II sangat
dipengaruhi oleh kekuatan 2 negara besar dengan ideologi yang bertolak
belakang, yaitu liberalisme dan kapitalisme. Negara yang tergabung dalam blok
barat atau relatif dekat dengan Amerika Serikat kemudian banyak dipengaruhi
oleh nilai-nilai liberalisme, begitu pula sebalikya dengan komunis. Di masa ini
jugalah para praktisi dan cendekiawan melihat pentingnya ekonomi yang mereka
tinggalkan selama berperang dan bagaimana ekonomi mempengaruhi kestabilan
politik, juga bagaimana seharusnya mereka tidak memisahkan dan mengabaikan
keterkaitan antara ekonomi dan politik.
Pasca PD II juga terjadi
ketidakseimbangan dalam perekonomian dikarenakan keuangan negara yang lebih
diarahkan pada pendanaan militer dan hilangnya SDA akibat perang. Terjadi pula
pergeseran cara pandang negara-negara terhadap interdependensi antar negara.
Kerja sama pun mulai dilakukan dan mulai muncullah Multinational Cooperation
atau MNC dan organisasi-organisasi internasional.
Krisis
Thailand 1997
Terjadi akibat ketidaksiapan Thailand
dalam menghadapi devaluasi Baht dan krisis moneter. Devaluasi Baht ini
disebabkan oleh keputusan pemerintah Thailand untuk menerapkan kebijaksanaan
sistem mengambang terhadap nilai tukar Bath terhadap dolar Amerika. Krisis
nasional ini kemudian menular hampir ke seluruh wilayah Asia dan menyebabkan
ketidakstabilan ekonomi. Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan yang relatif lebih
maju berhasil keluar dari krisis sementara itu Thailand dan Indonesia harus
menghadapi krisis yang semakin parah
sehingga terjadi ketidakstabilan sosial dan politik. Sistem standar emas
pun beralih pada dolar Amerika Serikat.

No comments:
Post a Comment