Tuesday, December 25, 2018

Ekonomi Politik Global: Sekilas Tentang EPG




Apa Itu Ekonomi Politik Global?


      International Political Economy atau Ekonomi Politik Global (EPG) adalah sebuah bidang studi dalam Hubungan Internasional (HI) yang mempelajari tentang bagaimana ekonomi dan politik mempengaruhi satu sama lain dan peranannya dalam menjelaskan fenomena-fenomena internasional, seperti terjadinya krisis moneter dunia, dan pengaruhnya dalam sistem internasional serta pengaruhnya dalam pembentukan kebijakan oleh pemerintah. EPG juga mengkaji pengaruh politik dengan pasar (state vs market) dan membahas untung–rugi ekonomi yang berkaitan dengan kebijakan politik negara.
      EPG sangat penting dipelajari dalam HI untuk membantu para pelajar HI memahami kompleksitas hubungan antara ekonomi dan politik dalam sistem internasional, mengkaji isu-isu terkait ekonomi politik sehingga dapat menjelaskan isu tersebut dengan logika dan dapat mencari solusi untuk isu tersebut. EPG juga memungkinkan pelajar HI untuk membuat ‘pola’ perkembangan ekonomi politik sehingga dapat memprediksi atau mengantisipasi kejadian-kejadian di masa depan yang kemudian memungkinkan pelajar HI untuk membuat saran-saran solusi apabila prediksi tersebut terjadi.

Kenapa Ekonomi dan Politik Dipelajari Sebagai Kesatuan?
      Baik politik maupun ekonomi saling menopang satu sama lain. Jika ekonomi negara lemah, akan terjadi ketidakstabilan politik, begitu juga sebaliknya. Jika politik suatu negara tidak stabil, pertumbuhan ekonomi rendah karena keurangnya investasi yang masuk terhadap negara tersebut.

Ekonomi Dunia Pra–1914
      Pada masa ini masih banyak penjajahan terjadi yang dilakukan oleh negara-negara adidaya (umunya berasal dari Eropa) terhadap negara-negara kecil (yang umumnya sekarang merupakan negara-negara dunia ketiga). Pada masa ini negara-negara besar sibuk mencari Sumber Daya Alam (SDA) dari negara-negara kecil dan mengeksploitasinya untuk kemakmuran negara penjajah. Revolusi industri pada abad ke–19 juga mempengaruhi efisiensi pengolahan sumber daya yang ada, sehingga turut meningkatkan perekonomian negara-negara di Eropa pada masa itu.
      Dalam masa ini juga muncul sistem standar emas, dimulai dengan Pemerintah Inggris menetapkan nilai pounsterling dengan emas. Pada akhirnya emas menjadi tolak ukur jual beli antar negara. Emas pada kala itu dinilai memiliki nilai tukar yang cenderung tetap dan stabil.

Ekonomi Dunia Pasca 1914 (PD IPD II)
      Pada masa ini banyak negara yang terlibat konflik satu sama lain dan konflik tersebut menyebabkan kekacauan ekonomi di berbagai negara. Negara-negara yang terlibat di dalam perang baik yang menang atau kalah harus memperbaiki negaranya dan hal tersebut memakan banyak biaya sehingga banyak negara yang tidak sanggup membenahi negara mereka dan timbulah depresi ekonomi yang mendunia. Pemulihan kembali negara juga diiringi pengembangan senjata dan meningkatkan keamanan negara sehingga proses pemulihan ekonomi berjalan lambat.

Ekonomi Dunia Pasca PD II
      Ekonomi pasca berakhirnya PD II sangat dipengaruhi oleh kekuatan 2 negara besar dengan ideologi yang bertolak belakang, yaitu liberalisme dan kapitalisme. Negara yang tergabung dalam blok barat atau relatif dekat dengan Amerika Serikat kemudian banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai liberalisme, begitu pula sebalikya dengan komunis. Di masa ini jugalah para praktisi dan cendekiawan melihat pentingnya ekonomi yang mereka tinggalkan selama berperang dan bagaimana ekonomi mempengaruhi kestabilan politik, juga bagaimana seharusnya mereka tidak memisahkan dan mengabaikan keterkaitan antara ekonomi dan politik.
      Pasca PD II juga terjadi ketidakseimbangan dalam perekonomian dikarenakan keuangan negara yang lebih diarahkan pada pendanaan militer dan hilangnya SDA akibat perang. Terjadi pula pergeseran cara pandang negara-negara terhadap interdependensi antar negara. Kerja sama pun mulai dilakukan dan mulai muncullah Multinational Cooperation atau MNC dan organisasi-organisasi internasional.

Krisis Thailand 1997

      Terjadi akibat ketidaksiapan Thailand dalam menghadapi devaluasi Baht dan krisis moneter. Devaluasi Baht ini disebabkan oleh keputusan pemerintah Thailand untuk menerapkan kebijaksanaan sistem mengambang terhadap nilai tukar Bath terhadap dolar Amerika. Krisis nasional ini kemudian menular hampir ke seluruh wilayah Asia dan menyebabkan ketidakstabilan ekonomi. Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan yang relatif lebih maju berhasil keluar dari krisis sementara itu Thailand dan Indonesia harus menghadapi krisis yang semakin parah  sehingga terjadi ketidakstabilan sosial dan politik. Sistem standar emas pun beralih pada dolar Amerika Serikat.

No comments:

Post a Comment